
5 Kesalahan Fatal Saat Submit Jurnal Scopus yang Bikin Ditolak
Mengirimkan artikel ke jurnal terindeks Scopus adalah impian hampir seluruh dosen dan peneliti di Indonesia. Namun, rejection rate jurnal-jurnal bereputasi bisa mencapai 60–80%. Di balik angka tersebut, sebagian besar penolakan bukan terjadi karena kualitas riset yang buruk, melainkan karena kesalahan teknis yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal.
Sebagai editor dan reviewer yang sudah menangani ratusan naskah, saya sering menemukan pola kesalahan yang berulang. Kesan pertama memang menentukan dan dalam dunia publikasi ilmiah, kesan pertama itu dibentuk oleh seberapa baik Anda memahami aturan main. Artikel ini menguraikan 5 kesalahan fatal yang paling sering menyebabkan artikel ditolak bahkan sebelum masuk tahap peer review, beserta solusi praktisnya.
Jika Anda merasa butuh bantuan profesional, layanan pendampingan submit jurnal Scopus dari HIRAHPress siap membantu Anda dari tahap penyusunan hingga submission.
Salah Memilih Jurnal Tidak Cek Indexing Scopus dan Terjebak Predatory Journal
Kesalahan pertama dan paling fundamental adalah memilih jurnal yang salah. Banyak penulis, terutama yang baru pertama kali berencana submit jurnal Scopus, langsung mencari jurnal berdasarkan nama yang terdengar "internasional" tanpa memverifikasi status indexing-nya secara langsung di database resmi Scopus (Scopus Source List). Akibatnya, mereka bisa saja mengirimkan artikel ke jurnal yang mengklaim terindeks Scopus, padahal sebenarnya sudah dihapus (delisted) atau bahkan sama sekali tidak pernah terindeks.
Kasus yang lebih berbahaya adalah terjebak predatory journal jurnal yang beroperasi dengan tujuan memungut biaya publikasi (APC) tanpa proses editorial dan peer review yang sebenarnya. Jurnal-jurnal ini sering memiliki website meyakinkan bahkan logo Scopus palsu, namun tidak ada bukti valid bahwa artikel mereka benar-benar terindeks.
- Mengandalkan klaim di website jurnal — Banyak jurnal mencantumkan "Indexed by Scopus" di halaman utama mereka, tapi klaim ini seringkali tidak valid atau sudah kedaluwarsa. Satu-satunya cara memastikan adalah dengan mengecek langsung di Scopus Source List yang diperbarui secara berkala oleh Elsevier.
- Tidak memeriksa scope dan aim jurnal — Mengirimkan artikel tentang pendidikan ke jurnal yang fokusnya adalah engineering adalah pemborosan waktu. Editor akan menolak naskah dalam hitungan menit (desk reject) karena topik di luar cakupan.
- Terbuai dengan janji publikasi cepat — Jurnal Scopus yang bonafide memiliki proses review yang ketat dan memakan waktu. Jika sebuah jurnal menjanjikan publikasi dalam 1–2 minggu, itu adalah red flag kuat.
- Ignoran terhadap reputasi penerbit — Penerbit ternama seperti Elsevier, Springer, Taylor & Francis, dan Wiley memiliki standar quality control yang jelas. Jurnal dari penerbit yang tidak dikenal memerlukan verifikasi ekstra.
Solusi
Sebelum mengirimkan naskah, lakukan verifikasi menyeluruh melalui langkah-langkah berikut:
Abstrak dan Cover Letter Tidak Sesuai Standar Internasional
Abstrak dan cover letter adalah dua elemen pertama yang dibaca oleh editor ketika naskah masuk ke sistem. Banyak penulis menganggap keduanya sebagai formalitas belaka, sehingga ditulis secara asal-asalan atau bahkan menggunakan template yang sama untuk semua jurnal. Padahal, abstrak yang buruk dan cover letter yang generik bisa langsung memicu desk rejection — penolakan tanpa proses peer review.
Abstrak yang berkualitas harus mampu menyampaikan seluruh esensi penelitian dalam 150–250 kata (tergantung kebijakan jurnal). Ini mencakup: latar belakang masalah, tujuan penelitian, metode yang digunakan, temuan utama, dan kesimpulan. Sayangnya, banyak abstrak yang saya temui hanya berisi paragraf pengantar tanpa menyebutkan metode atau temuan secara spesifik. Editor yang membaca abstrak seperti ini langsung akan berasumsi bahwa kualitas naskah secara keseluruhan juga rendah.
Cover letter berfungsi sebagai "surat pengantar" yang menjelaskan mengapa penelitian Anda penting dan relevan bagi jurnal tersebut. Banyak penulis hanya menulis satu kalimat generik seperti "We submit our manuscript for consideration of publication." Cover letter yang baik harus menunjukkan kesesuaian topik penelitian dengan scope jurnal, menyebutkan kontribusi orisinal Anda, dan menjelaskan mengapa penelitian ini menarik bagi pembaca jurnal.
- Abstrak terlalu panjang atau terlalu pendek — Setiap jurnal memiliki batas kata yang ketat untuk abstrak. Melebihi batas ini menunjukkan ketidakpatuhan terhadap pedoman, yang merupakan sinyal negatif bagi editor.
- Tidak menyertakan elemen wajib — Abstrak harus mengandung background, objective, method, result, dan conclusion. Ketiadaan salah satu elemen ini membuat abstrak terasa tidak lengkap.
- Cover letter copy-paste untuk semua jurnal — Setiap jurnal memiliki fokus yang berbeda. Cover letter harus disesuaikan (customized) untuk setiap jurnal target.
- Bahasa abstrak tidak ringkas dan ambigu — Kalimat-kalimat panjang yang berbelit-belit membuat abstrak sulit dipahami. Gunakan kalimat aktif, langsung, dan informatif.
Solusi
Format dan Gaya Bahasa Tidak Mengikuti Guideline Jurnal
Setiap jurnal memiliki Author Guidelines atau Instructions for Authors yang menjadi pedoman wajib bagi penulis. Pedoman ini mengatur segala hal mulai dari margin, jenis font, format referensi (APA, IEEE, Vancouver, dll.), jumlah halaman maksimum, hingga struktur penulisan. Namun, sebagian besar penolakan teknis terjadi karena penulis tidak membaca atau mengabaikan pedoman ini.
Mengapa ini penting? Karena editor menilai kedisiplinan penulis dari seberapa baik mereka mengikuti instruksi. Jika penulis tidak mampu mengikuti aturan format sederhana, editor akan mempertanyakan kualitas metodologi dan analisis data dalam penelitian tersebut. Ini bukan soal perfeksionisme ini soal profesionalisme akademik.
Pada level yang lebih dalam, kesalahan format juga mencakup penggunaan gaya bahasa yang tidak sesuai. Jurnal internasional mengharuskan penulisan menggunakan bahasa Inggris akademik yang formal, objektif, dan bebas dari kolokialisme. Banyak penulis Indonesia yang menerjemahkan naskah secara literal dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, menghasilkan kalimat-kalimat yang tidak natural secara grammatical dan stylistic. Ini bukan sekadar masalah grammar ini adalah masalah akademik writing yang membutuhkan keahlian khusus.
- Format referensi tidak konsisten — Mencampurkan gaya APA dan Vancouver dalam satu naskah menunjukkan ketidaktelitian. Pastikan semua sitasi dan daftar pustaka mengikuti satu gaya saja.
- Struktur heading tidak sesuai pedoman — Beberapa jurnal menggunakan angka (1., 1.1., 1.1.1.), yang lain menggunakan huruf kapital bold. Ikuti persis apa yang diminta.
- Gambar dan tabel tidak memenuhi standar — Resolusi terlalu rendah, keterangan (caption) tidak lengkap, atau format file tidak sesuai.
- Melampirkan file yang tidak diminta — Beberapa jurnal meminta semua file (gambar, tabel, supplementary) digabung dalam satu dokumen, sementara yang lain memisahkannya.
- Bahasa Inggris yang tidak idiomatik — Kalimat bertele-tele, penggunaan kata yang tidak tepat, dan struktur kalimat yang mengikuti pola bahasa Indonesia.
Solusi
Tidak Melakukan Proofreading dan Cek Turnitin Sebelum Submit
Plagiarisme baik disengaja maupun tidak adalah dosa terbesar dalam publikasi ilmiah. Setiap jurnal Scopus akan menjalankan similarity check menggunakan iThenticate atau Turnitin. Jika similarity index melebihi batas biasanya 15–25% — naskah bisa langsung ditolak.
Yang sering terjadi, penulis tidak pernah mengecek similarity index sebelum mengirim. Mereka baru menyadari naskahnya memiliki kemiripan 40% setelah menerima laporan dari editor dan pada saat itu, kerusakan reputasi sudah terjadi. Beberapa jurnal bahkan mencatat insiden ini dalam database internal mereka.
Masalah kedua yang tidak kalah krusial adalah proofreading. Typos, kesalahan grammar, dan inkonsistensi terminologi seharusnya diperbaiki sebelum submission. Banyak penulis menganggap proofreading bisa "dilewati" karena editor nanti memperbaikinya. Ini asumsi yang sangat keliru. Reviewer bukan proofreader tugas mereka menilai substansi ilmiah. Naskah penuh kesalahan teknis bahasa akan meninggalkan kesan penulis yang tidak serius.
- Self-plagiarisme tidak disadari — Menggunakan bagian dari artikel sebelumnya yang sudah dipublikasikan tanpa kutipan yang tepat. Ini tetap dianggap plagiarisme meskipun sumbernya adalah karya Anda sendiri.
- Kutipan tidak lengkap atau salah — Lupa menaruh tanda kutip pada direct quote atau salah menuliskan sumber referensi.
- Paraphrasing yang terlalu mirip dengan sumber — Mengganti beberapa kata tanpa benar-benar menyusun ulang kalimat dengan gaya Anda sendiri.
- Tidak menggunakan software anti-plagiarisme — Banyak institusi menyediakan akses Turnitin gratis. Jika tidak tersedia, gunakan alternatif seperti Grammarly Plagiarism Checker atau DupliChecker sebagai langkah awal.
- Proofreading dilakukan secara terburu-buru — Membaca naskah sekali saja tidak cukup. Lakukan minimal 2–3 kali pembacaan dengan fokus yang berbeda: sekali untuk konten, sekali untuk grammar, dan sekali untuk format.
Solusi
Tidak Memahami Proses Peer Review dan Response to Reviewers
Peer review adalah jantung dari proses publikasi ilmiah. Memahami bagaimana proses ini bekerja dan bagaimana merespons komentar reviewer dengan tepat bisa menjadi perbedaan antara artikel yang diterima dan artikel yang ditolak setelah melalui beberapa putaran revisi. Namun, banyak penulis yang masuk ke proses ini tanpa pemahaman yang memadai, sehingga merespons komentar reviewer dengan emosional, tidak sistematis, atau bahkan mengabaikan sebagian komentar.
Ketika menerima komentar reviewer, hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa komentar tersebut bukan serangan personal. Reviewer melakukan tugas mereka untuk memastikan kualitas publikasi. Bahkan komentar yang keras biasanya mengandung poin valid yang bisa memperbaiki naskah Anda. Penulis yang merespons dengan sikap defensif membantah setiap komentar tanpa perubahan substantif akan kehilangan kepercayaan editor.
Response to reviewers yang baik membutuhkan format yang jelas dan terstruktur. Setiap komentar reviewer harus direspons satu per satu dengan: (1) pengakuan atas komentar tersebut, (2) penjelasan perubahan yang telah dilakukan, dan (3) referensi ke bagian spesifik dalam naskah yang telah direvisi. Jika Anda tidak setuju dengan suatu komentar, berikan argumen yang berbasis bukti secara sopan dan profesional bukan sekadar mengatakan "kami tidak setuju."
- Membalas komentar dengan nada emosional — Menggunakan kata-kata seperti "Reviewer salah paham" atau "Komentar ini tidak relevan" adalah resep bencana. Selalu gunakan nada profesional dan akademik.
- Tidak merespons semua komentar — Editor akan memeriksa apakah setiap poin reviewer telah dijawab. Komentar yang diabaikan akan membuat editor mempertanyakan komitmen penulis.
- Response letter tidak terstruktur — Menulis response dalam format narasi panjang tanpa memisahkan setiap komentar membuat sulit bagi editor untuk menelusuri apakah semua poin telah ditangani.
- Revisi tidak konsisten dengan response — Mengklaim telah melakukan perubahan di response letter, tetapi perubahan tersebut tidak terlihat dalam naskah yang direvisi. Ini adalah kesalahan fatal yang bisa langsung memicu penolakan akhir.
- Tidak menjelaskan perubahan dengan lokasi spesifik — Sebutkan nomor halaman, nomor baris, atau nomor tabel di mana perubahan dilakukan. Contoh: "We have revised this section as suggested (page 12, lines 234–238)."
Solusi
Ringkasan 5 Kesalahan Fatal
Berikut adalah rangkuman dari kelima kesalahan yang telah dibahas, beserta dampak dan solusi singkatnya:
| No. | Kesalahan | Dampak | Solusi Singkat |
|---|---|---|---|
| 1 | Salah memilih jurnal (predatory / delisted) | Artikel tidak terindeks Scopus, biaya APC hangus, reputasi tercoreng | Cek langsung di Scopus Source List; gunakan Think. Check. Submit. |
| 2 | Abstrak dan cover letter tidak standar | Desk reject dalam 24–72 jam | Tulis abstrak terstruktur (IMRaD); custom cover letter per jurnal |
| 3 | Format dan bahasa tidak sesuai guideline | Naskah dikembalikan untuk revisi format; membuang waktu berminggu-minggu | Download dan ikuti Author Guidelines secara ketat; gunakan jasa proofreading |
| 4 | Tidak cek Turnitin dan proofreading | Penolakan karena plagiarisme; kesan tidak profesional pada reviewer | Jalankan similarity check 2 minggu sebelum submit; proofreading berlapis |
| 5 | Tidak paham peer review dan response to reviewers | Penolakan setelah revisi; kehilangan kesempatan diterima di putaran akhir | Respons semua komentar terstruktur; tunjukkan lokasi perubahan di naskah |
Penutup — Jangan Biarkan Kesalahan Teknis Menggagalkan Riset Anda
Kelima kesalahan di atas bukanlah hal-hal yang memerlukan kecerdasan luar biasa untuk dihindari. Yang dibutuhkan adalah ketelitian, kesabaran, dan kemauan untuk belajar dari proses. Setiap kesalahan teknis yang bisa dicegah sejak awal berarti satu langkah lebih dekat menuju publikasi di jurnal Scopus yang Anda impikan.
Ingat, submit jurnal Scopus bukan sekadar mengunggah file ke sistem online. Ini membutuhkan persiapan matang dan pemahaman mendalam tentang aturan. Jika Anda merasa kesulitan, jangan ragu mencari bantuan profesional. Layanan pendampingan submit jurnal Scopus dari HIRAHPress dirancang untuk membantu penulis Indonesia dari pemilihan jurnal hingga penyusunan response to reviewers.
Untuk diskusi lebih lanjut, hubungi tim kami melalui konsultasi dengan reviewer HIRAHPress. Kami siap membantu mewujudkan target publikasi Anda di jurnal bereputasi internasional. Selamat menulis, dan semoga sukses!